- MAHA DEWA MING CIE & KETELADANAN HIDUPNYA
MAHA DEWA MING CIE & KETELADANAN HIDUPNYA
| M |
ing Cie Ta Sien terlahir dengan nama Tan A Wie. Lahir pada tanggal 28 Mei 1907. Di Kanpung halamannya Tiongkok. Beliau hidup dalam keluarga petani. Pada usia 13 tahun, beliau sudah merasakan kesengsaraaan hidup karena perang dan pertikaian perebutan kekuasaan di Tiongkok. Kondisi Negara yang porak – poranda karena perang, membuat rakyat harus menderita. Maka timbullah tekad untuk datang ke Indonesia, guna mencari kehidupan baru. Berangkatlah Tan A Wie bersama kakaknya.
Kejujuran dan Kepolosan
Sesampainya di Indonesia, untuk pertama kalinya Tan A Wie bekerja sebagai pegawai di pabrik Ban Han Ciong yang mana pada zaman itu adalah orang yang terkenal di seluruh Surabaya dengan took agen sepedanya.
Beliau selalu rendah hati, jjur, dan rajin. Apalagi waktu itu tidak ada pembantu, sehingga Tan A Wie yang masih remaja, pagi – pagi subuh jam 04.00 sudah bangun untuk menyapu, ngepel, lap kaca dan sebagainya. Jiwa yang polos dan sederhana membuat Tan A Wie disenangi majikannya. Walau begitu, majikannya Tan A Wie tetap ingin menguji kejujuran beliau. Suatu hari, Tan A Wie diberi tugas keluar kota untuk menagih uang ke kampung – kampung. Dari Surabaya ke Jawa Tengah adalah jarak yang cukup jauh dan melelahkan, apalagi harus menginap di perkampungan. Tentu godaan di luar cukup berat. Oleh karenanya, dalam setiap tugas keluar kota, sang majikan selalu menyertakan seorang karyawan sebagai teman perjalanan sekaligus pengawas. Dengan demikian, prilaku Tan A Wie selalu termonitor oleh sang majikan.
Setiap pulang, sang majikan selalu bertanya kepada teman perjalanan bbeliau tentang bagaimana sikap A Wie di kampong. Apakah beliau sering keluar jalan – jalan kalau malam? Lalu jam berapa tidur? Dan sejumlah pertanyaan yang notabenenya adalah mencari tahu tentang pribadi seorang Tan A Wie tersebut.
Sang majikan selalu tersenyum mendengar setiap jawaban dari teman – teman perjalanan Tan A Wie. Sang majikan bergumam, “Sikapnya bagus, tidak pernah keluar malam, pagi – pagi sudah bangun.” Sikap demikian membuat majikannya semakin prcaya dan puas terhadap hasil kerja beliau. Terbersitlah niat untuk menjodohkan putrinya dengan Tan A Wie.
Setelah niat Sang majikan tercapai melalui pertunangan putrinya, Tan A Wie pulang ke Tiongkok untuk memberitahukan orang tuanya. Tentu saja orang tua beliau senang terlebih memikirkan bahwa anaknya sudah beranjak dewasa dan sudah saatnya untuk memulai kehidupan berkeluarga.
Di Tiongkok, seperti kebiasaan sehari – hari setelah selesai mandi, pakaian kotor beliau dicuci oleh soso (ipar) beliau. Akakn tetapi pada waktu itu, begitu pakaian kotor di ember, spontan menjadi rebutan gadis – gadis tetangga yang sengaja datang untuk mencuci beliau. Spontan kejadian ini mengagetkan Tan A Wie dan membuatnya terperangah. Kebetulan soso beliau hendak mencuci baju, melihat pemandangan demikian menjadi kaget dan melaporkan kejadian tersebut kepada mertuanya.
San ibu menjadi murka dan marah besar, “ kamu ini keterlaluan sekali, di Indonesia sudah ada calon istri, masih berani macam – macam menggoda anak gadis orang lain. Sekarang juga kembali ke Indonesia!”
Tan A Wie spontan berlutut, “ Mama, ananda mohon maaf, saya takkan berani berbuat kurang ajar. Mereka sendiri yang merebut baju saya begitu saya letakkan di ember. Mana berani saya menyuruh mereka untuk mencuci baju saya. Jika saya harus kembali ke Indonesia, baiklah Mama, namun mohon Mama tidak marah. Saya akan segera pulang ke Indonesia untuk membuktikan bakti kepada Mama.”
Tan A Wie adalah anak berbakti, pandai, dan ganteng, tentu banyak disukai gadis – gadis di kampungnya. Namun karena beliau selalu menurut, maka berangkatlah beliau ke Indonesia.
Tak lama setelah itu, atas prakarsa sang mertua, berlangsunglah pernikahan beliau. Kemudian mertuanya memberikan kepercayaan penuh untuk mengelola seluruh bisnis keluarga. Berkat kerajinan dan kejujuran beliau, usaha terus berkembang dari agen sepeda beliau menjadi agen onderdil mobil. Usahanya semakin maju pesat, namun sering kali juga beliau dirugikan oleh teman – temannya karena kepolosannya. Beliau tak ingin bermain curang dan kasar. Saat itu beliau juga menjadi wakil ketua sebuah kelenteng yang terletak di Jalan Duku, Surabaya.
Dalam pergaulannya yang luas, Tan A Wie dikenal sebagai sosok pria muda yang sukses dan berpenampilan sederhana. Beliau sangat disenangi oleh banyak orang tak terkecuali juga teman – teman wanita yang menyukainya. Walau begitu, Tan A Wie tetap menjaga kesusilaan.
Memasuki Wadah Ketuhanan
Tahun 1961 merupakan babak kehidupan baru bagi Tan A Wie yang memohon Ketuhanan di Vihara Dharma Maitreya Jl. Kenjeran-Surabaya. Tentu Sesepuh Cahaya Maitreya sangat senang dan berkali – kali mengucapkan selamat karena beliau berjodoh dengan Buddha Maitreya. Kebetulan pada masa itu Sesepuh Cahaya Maitreya pernah mengenal Tan A Wie ketika membeli sepeda.
Setelah pendiksaan dan penjelasan Tri Mustika, Tan A Wie merasakan Keluhuran Jalan Ketuhanan. Sejak itu menjadi aktif datang ke Vihara dan belajar bervegetarian. Di bawah bimbingan Sesepuh Cahaya Maitreya, Tan A Wie semakin terpanggil untuk membina dan mengemban misi suci Ketuhanan. Rasa hormat kepada Sesepuh Cahaya Maitreya sebagai guru spiritual, menjadikan beliau sebagai seorang pembina yang patuh. Tak terpikir bahwa beliau adalah pengusaha besar. Hingga tahun 1967 Tan A Wie diangkat sebagai Pandita Muda (Thancu).
Perkembangan usaha Thancu Tan A Wie semakin maju, hingga mampu membuka bank dengan direktur utama beliau sendiri. Di sela – sela kesibukan berbisnis, beliau tetap bisa meluangkan waktu ke Vihara sebagai aktivis saleh dan rendah hati.
Terbersit di hati beliau untuk merintis vihara di beberapa kota. Maka pada tahun 1968 untuk pertama kalinya beliau membangun Vihara di Madiun. Suatu ketika Sesepuh Cahaya Maitreya mengajak beliau ke Malang untuk bertemu dengan Sesepuh Maitreyawira. Saat bertemu, Sesepuh Cahaya Maitreya memperkenalkan Thancu Tan A Wie sebagai umat yang tulus. Sesepuh Maitreyawira sangat senang dan bertanya, “ Apa pekerjaanmu kini?”
“Saya mengelola sebuah bank!” jawab Thancu Tan A Wie. Mendengar jawaban tersebut, Sesepuh Maitreyawira langsung terdiam. Thancu Tan A Wie menjadi kaget dan tak enak hati. Beliau merasa ada firasat tak baik hingga berfikir “Mungkin saya salah, gara – gara berbicara mengelola bank, sehingga Sesepuh menjadi tak senang. Pasti ini pekerjaan yang tak baik, sebagai siswa Ketuhanan tak pantas hidup dari makan bunga orang lain. Baiklah, setelah pulang ini saya akan segera tutup bank dan ganti haluan saja”. Demikian pola pikir Thancu Tan A Wie yang lugu. Terhadap atasan, beliau sangat patuh dan hormat.
Akhirnya Thancu Tan A Wie berganti usaha dari bank menjadi usaha hasil bumi. Beliau mendirikan agen kentang, sehingga beliau harus bolak balik dari Surabaya, Solo dan Yokyakarta.
Melihat kesibukan baru Thancu Tan A Wie ini, Sesepuh Cahaya Maitreya menjadi tergugah, karena di tengah usaha tersebut masih dimungkinkan untuk mengembangkan Ajaran Ketuhanan di tempat lain. Maka setiap kali Thancu Tan A Wie berangkat ke Solo atau Yokyakarta, Sesepuh Cahaya Maiteya turut serta. Hingga akhirnya dua daerah itu berhasil didirikan Vihara, berkat bantuan Thancu Tan A Wie.
Ketulusan, tanggung jawab, dan kejujuran Thancu Tan A Wie, mengantar beliau mendapatkan Kuasa Firman Tuhan sebagai Pandita dan menyatakan hidup sici tinggal di Vihara pada tahun 1970. Pada tahun itu juga Pandita Tan A Wie merintis Jalan Ketuhanan di Bandung hingga berhasil dibangun Vihara Maitreya Duta, yang kini dikenal dengan Angklung nuraninya.
Menjadi Pandita adalah mengemban kuasa Firman Tuhan dan membawa misi kabar sukacita Maitreya untuk menyelamatkan jiwa insane manusia. Ini berarti harus berkonsentrasi penuh dalam Ketuhanan. Itulah prinsip Pandita Tan A Wie. Karena itulah beliau melepas semua bisnis dan usaha yang sudah dirintis selama ini dan dengan kesadaran tinggi, PAndita Tan A Wie mewariskan kepada anaknya.
Yang Arya Maha Sesepuh Ong (Hao Che Ta Ti) selalu memuji sikap tersebut, “Kalian para Pandita Indonesia haurs meneladani Pandita Tan A Wie yang bisa melepaskan seluruh usaha dan bisnis. Beliau sepenuh hati dan sekuat tenaga mengembang jayakan Jalan Ketuhanan!”
Dalam membina dan mengembangkan misi, Pandita Tan A Wie tak pernah menyesal dan mengeluh. Walaupun beliau harus menghadapi berbagai rintangan, hidup dalam kesederhanaan dan keprihatinan. Hal ini juga sampai dikritik anak dan cucunya yang melihat kehidupan Pandita Tan A Wie tersebut. Masukan tersebut ditanggapi dengan hati teguh nan kasih sebagai orang tua yang bijak. Dalam hatinya, kelak anak dan cucunya akan mengerti karena misi dari Lao Mu lebih berarti.
Bertemu dengan She Mu
Sewaktu ada kesempatan ke Taiwan, Sesepuh Maitreya pernah mengajak Pandita Tan A Wie, untuk melaporkan keadaan Wadah Ketuhanan di Indonesia kepada She Mu (Ibu Guru Suci). Biasanya setiap kedatangan Sesepuh atau Pandita yang hendak bertemu dengan She Mu, harus melalui Yang Arya Maha Sesepuh Ong ( Hao Che Ta Ti ). Setelah itu beliau akan menyampaikannya kepada She Mu, siapa – siapa yang datang dan ingin bertemu. Tentu saja tidak sembarangan orang yang dapat bertemu She Mu, bila tidak memiliki jodoh Ketuhanan yang kuat dan rendah hati dalam membina, cukup dengan mendengarkan nama yang disebutkan Yang Arya, She Mu sudah tahu latar belakang orang tersebut.
Pandita Tan A Wie termasuk orang beruntung. Bahkan She Mu memberi nasehat dan wejangan penting kepada Pandita. Tak lupa memberikan dua cinderamata berupa sebuah prasasti berukuran selitar 20 cm x 6 cm dalam bentuk ukiran huruf mandarin, bertuliskan “Sabar Dan Baik – Baik membina” dan sebuah keramik berbentuk buah Sien Thau. Pandita merasa sangat terkesan dan terharu atas perhatian dan kelembutan hati She Mu.
Pada tahun 1973 Pandita Tan A Wie mengikuti Pertobatan Agung di Vihara Palmerah, Jakarta dan berikrar untuk mendirikan Vihara bersama Sesepuh Cahaya Maitreya sampai ke Bali, Bogor, Jakarta Pusat, dan daerah – daerah lainnya. Terkadang Pandita pergi sendiri mendapat tugas untuk membangun Vihara. Seperti pada tahun 1981, Sesepuh Cahaya Maitreya menitahkan “Sebaiknya Pandita membangun Vihara di Bangka. Di sana banyak benih – benih Buddha yang belum terselamatkan. Bila ada waktu kita pergi sama – sama dulu untuk mencari lokasi, bagaimana menurut Pandita?”
Pandita Tan hanya menjawab, “Baik, baik, baik Sesepuh!” Inilah sikap Pandita Tan A Wie, selalu siap menerima tugas tanpa niat kedua. Kemudian, kedua Pandita ini bolak balik dari Surabaya dan Bangka, perjalanan yang cukup jauh dan meletihkan. Apabila demi untuk menghemat uang, mereka turun naik bus dan Kapal Feri memakan waktu hampir tiga hari.
Atas jasa Sesepuh Cahaya dan Pandita Tan A Wie, berdirilah Vihara Citra Maitreya di jalan Bukit Intan II Pangkalpinang, Bangka pada tahun 1983. Waktu itu di Bangka belum ada Vihara yang lain. Masyarakat Bangka serba ingin tahu dan menyambut gembira atas berdirinya Vihara. Dalam waktu singkat banyak masyarakat yang datang memohon Ketuhanan, sehingga Vihara menjadi ramai. Bahkan orang – orang dati Jebus, sebuah desa terpencil yang memakan waktu tempuh tidak kurang dari empat jam dari Pangkalpinang juga datang memohon Jalan Ketuhanan dengan beramai – ramai menyewa bus. Jumlah mereka sampai 300 orang.
Mengetahui akan luhurnya Jalan Ketuhanan dan jarak tempuh ke Vihara yang jauh merupakan hambatan mereka untuk membina diri. Memohonlah mereka kepada Pandita Tan A Wie agar di daerah Jebus dibangun pula sebuah Vihara.
Melihat ketulusan hati umat – umat Jebus tersebut, Pandita Tan A Wie langsung menyanggupinya tanpa pikir panjang. Pada tahun 1984 Vihara Dharma Citra di Jalan Bukit Lintang, Jebus diresmikan.
Pada tahun 1986 Pandita Tan A Wie merenovasi Vihara Maitreya Duta – Bandung, dengan uang pribadi sebesar tiga puluh juta rupiah. Vihara tersebut menjadi representatif. Inilah satu contoh ketulusan dari beliau yang tanpa ragu berkorban apa saja demi kemajuan Wadah Ketuhanan.
Kesibukan Pandita Tan A Wie demi misi Ketuhanan tak kenal istirahat. Tak peduli seberapa besar tenaga yang dikeluarkan, semuanya dikaryabaktikan untuk umat.
Dalam umur semakin menua, fisik tubuh yang semakin lelah dan letih, sangat tidak menunjang semangatnya unutk terus menggali lahan – lahan baru, membangun Vihara seperti Belinyu. Sebelumnya beliau pernah ke Belinyu beberapa kali untuk mencari lokasi, bahkan mengajak Sesepuh Cahaya Maitreya. Namun lokasi tanah yang sesuai sulit didapat, sementara badan sudah lemah dan sakit – sakitan. Rasanya pekerjaan rumah dari Lao Mu demikian banyak dan kewajiban belum terlaksana semua. Akhirnya, semangatlah yang diwariskan kepada para generasi muda. Amanat mendirikan Vihara di Bangka pun diteruskan kepada Pandita Suniyanti.
Pandita Tan dalam kunjungan terakhir ke Bangka dengan tubuh terseok – seok berkata, ”Saya tidak bisa lagi melihat kalian, ini adalah yang terakhir kali. Baik baiklah membina dan sebagai kenang – kenangan terakhir hanya jalan ini yang bisa ku aspal buat kalian.” Itulah karya bakti terakhir yaitu membuat jalan lebih baik untuk umat di Vihara Citra Maitreya di Jalan Bukit Intan II, Pangkalpinang yang hingga tahun 1987 kondisi jalannya masih memprihatinkan. Pada tahun ini juga beliau kembali ke pangkuan Lao Mu, dan Lao Mu memuliakan namanya dan dianugerahkan kedudukan Maha Dewa yang diketahui pada penulisan pasir di Vihara Buddha Maitreya, Malang pada bulan Desember 1987 dengan gelar kesempurnaan MING CIE TA SIEN.
Filed under: LaWa